AGENDA

dinas lingkungan hidup

Provinsi Kalimantan Utara

HUTRi73

Sekilas Kalimantan Utara Dan Kalimantan Timur

Pulau yang dikenal sebagai Borneo ini terbagi antara Indonesia, Malaysia dan Brunei. Hingga kini, Kalimantan Timur merupakan propinsi terbesar di pulau tersebut dan kedua terbesar di Indonesia. Wilayah ujung utara Kalimantan Timur dideklarasikan sebagai propinsi ke – 34 di Indonesia, pada Oktober 2012 menjadi Kalimantan Utara. Propinsi baru tersebut mengambil lebih banyak perbatasan Malaysia di bagian utara, sedangkan Kalimantan Timur tetap berbagi perbatasan dengan wilayah Kalimantan lainnya hingga selatan-timur dan barat.

Wilayah pedalaman di bagian barat dari dua propinsi tersebut didefinisikan sebagai Pegunungan Iran, yang merupakan wilayah pegunungan dan perbukitan. Wilayah pedalaman selebihnya dan pesisir merupakan dataran yang sangat rendah. Terdapat 162 sungai yang mengalir melalui propinsi menuju Laut Celeb dan Selat Makasar di bagian timur, membentuk seperti baskom besar yang ada di dalam rawa di bagian tenggara propinsi tersebut.

Keanekaragaman

Empat daerah di Kalimantan dideklarasikan oleh WWF sebagai wilayah ekoregion dunia. Yang paling berharga dari wilayah ekoregion ini adalah ‘Jantung Borneo’, sebuah wilayah seluas 23 juta yang sangat kaya akan hutan hujan memiliki 6% keanekaragaman hayati dunia dan berbagai tumbuhan langka dan spesies hewan. Hutan hujan tersebut diperkirakan usianya lebih tua daripada hutan Amazon. Jantung Borneo yang paling luas, 6 juta ha, terletak di Kalimantan Utara dan Timur.

Mengingat bervariasinya lanskap diseluruh daerah, terdapat keragaman yang penting pada ekosistem mulai dari tropis dan bergunung hingga ke gambut dan hutan bakau. Di Taman Nasional Kayan Mentarang di bagian utara, setengah kawasan hutan terletak pada ketinggian di atas 1000 meter, dimana Taman Nasional Kutai di bagian tenggara sebagian besar adalah rawa. Setiap jenis hutan memiliki fungsi yang sangat penting untuk menjaga keseimbangan ekologis, dari mengatur kualitas air hingga menyerap karbon dan menjaga pola cuaca.

Ekonomi

Kalimantan Utara dan Timur berlimpah dengan sumber daya alam. Sebelum Kalimantan Utara dibentuk, wilayah tersebut memliki GDP per kapita kedua terbesar di Indonesia, kebanyakan karena tingginya eksploitasi minyak, gas alam, dan batu bara. Industri-industri ini dipasok oleh badan-badan komersil dan para penambang lokal, diperkirakan terdapat 20.000 penambangan batu bara berskala kecil di kedua propinsi tersebut.

Industri kehutanan juga secara konsisten memberikan kontribusi besar dalam sektor ekonomi. Kalimantan Timur sendiri memproduksi 17% dari total produksi kayu di Indonesia dari tahun 1994-2006, dan diharapkan saat minyak, batu bara dan gas menurun akan ada pergeseran menuju produksi kayu. Perkebunan kelapa sawit dan pulp serta kertas adalah haly umum di seluruh wilayah tersebut.

Untuk masyarakat pedesaan, budidaya tanaman dan pertanian merupakan mata pencaharian andalan. Kelapa sawit, kopi, kelapa, lada dan coklat adalah tanaman umum dan petani kecil memproduksi sekitar 90% karet di kawasan tersebut. Masyarakat adat setempat juga memproduksi secara tradisional hasil hutan non-kayu, seperti rotan, damar, sarang burung, madu dan tanaman obat. Budidaya ikan air tawar dan udang juga meluas.

Ancaman pada hutan dan keanekaragaman

Ada masalah lingkungan mengenai pembentukan Kalimantan Utara. Meskipun 70% dari Kalimantan Timur dianggap kawasan hutan, banyak daerah di bagian tengah dan selatan telah mengalami degradasi atau pembersihan secara ilegal. Hutan produksi mencakup 60% dari kawasan hutan dan hampir 12 juta ha hutan telah diakuisisi oleh perusahaan kayu dan pertambangan.

Sebagian besar hutan utuh di bagian utara wilayah tersebut diserap ke batas-batas Kalimantan Utara dan kemudian kawasan utuh hutan primer di Kalimantan Timur turun dari 35% menjadi 15%. Pemerhati lingkungan memperingatkan bahwa pembentukan propinsi Kalimantan Utara akan menyebabkan perambahan di kawasan hutan utuh yang masih tersisa.

Ancaman terbesar hutan Kalimantan selama beberapa dekade terakhir adalah kebakaran hutan. Selama musim kering tahun 1997 dan 1998 kebakaran hutan yang sangat parah menghancurkan Indonesia dan lebih dari 8 juta ha hutan terbakar di Kalimantan. Sementara, penyebab langsung kebakaran adalah perselisihan, dan diperkirakan setengah kebakaran berasal dari perkebunan kelapa sawit. Pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit melalui pembakaran terjadi setiap kali musim kering di Kalimantan Timur.
Penambangan dan penebangan ilegal juga menjadi penyebab yang cukup signifikan terhadap penebangan hutan, baik untuk skala komersil dan lokal. Di seluruh Kalimantan, 272.006 ha dari perizinan pertambangan komersil tumpang tindih dengan kawasan hutan lindung. Pertambangan dan konsensi penebangan meliputi 49% Jantung Borneo. Karena hal ini juga, hanya 35% dari rawa gambut asli di hutan masih tetap ada pada tahun 2012.

Aktivitas-aktivitas ini memiliki banyak konsekuensi lingkungan, termasuk meningkatnya banjir dan tanah longsor, dan hilangnya keanekaragaman hayati yang cukup signifikan. Populasi ikan mengalami penurunan hampir 10% di Kalimantan Timur karena penebangan hutan bakau untuk konversi tambak ikan serta peningkatan terkait endapan sungai.