AGENDA

dinas lingkungan hidup

Provinsi Kalimantan Utara

Hari Kemerdekaan Republik Indonesia

Karena Perburuan Liar SatWwa Dilindungi Terancam

TARAKAN,  Meskipun Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990 Tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem secara tegas melindungi beberapa satwa liar, namun perburuan di Kalimantan Utara terbilang masih cukup tinggi. Oleh karena itu World Wide Fund (WWF) gencar melakukan sosialisasi untuk keberlangsungan satwa khas Kalimantan Utara yang berada di ambang kepunahan.

Hal ini terungkap dalam Workshop Perburuan dan Perdagangan Satwa Ilegal digelar di Tarakan. Dalam kesempatan tersebut, Spesies Spesialis Lanscape Program WWF Kaltara, Agus Suyitno menjelaskan bahwa masih ada masyarakat yang memiliki ketergantungan kepada hewan buruan.

Ia tidak mempermasalahkan jika satwa yang diburu tidak masuk dalam daftar yang dilindungi. Namun tak jarang hewan yang hampir punah pun juga menjadi sasaran dengan alasan ekonomi, karena hasil buruan kembali dijual kepada pengepul.

“Kalau hewan konsumsi yang tidak dilarang silakan (diburu, Red.). Tetapi jangan lakukan kepada satwa yang dilindungi seperti Bekantan, Gajah Kerdil Khas Kaltara, Orang Utan, burung Enggang dan masih banyak lainnya. Makanya perlu diberi informasi untuk mengenali hewan-hewan yang dilindungi untuk tidak diburu. Perburuan banyak motif. Ada yang diambil dagingnya, ada juga karena nilai ekonominya, gading gajah dan paruh burung enggang cukup mahal di pasar luar negeri,” ungkap Agus, Kamis (2/5/2019).

Selain itu, ada juga hewan yang diyakini memiliki khasiat untuk mengobati penyakit tertentu sehingga harganya juga tinggi, seperti trenggiling, dan lain sebagainya. Tingginya harga jual satwa dilindungi karena dijadikan koleksi oleh masyarakat yang memiliki hobi barang antik dengan cara mengawetkan satwa liar tersebut.

“Motif lain kenapa diburu, untuk kebutuhan kerajinan atau hiasan. Orang suka mengoleksi untuk di rumah, seperti gading diukir. Kalau yang dipelihara satwa langka karena gaya hidup supaya dibilang sosialita, serta menjadi suatu kebanggan. Satwa langka dan hampir punah ini rata-rata memiliki harga yang terbilang cukup tinggi sehingga sangat menggiurkan untuk melakukan perburuan secara ilegal,” bebernya.

Pencegahan yang dilakukan WWF akan berbagi peran dengan instansi terkait. Koordinasi dengan aparat penegak hukum yang membidangi, kemudian ada beberapa hal yang dilakukan untuk mencegah satwa dilindungi diburu. “Kita akan bermain pada edukasi kepada masyarakat semua lapisan secara luas, bahwa satwa yang dilindungi bahkan terancam punah tidak boleh diburu maupun diperdagangkan karena bisa berurusan dengan hukum,” ucapnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Penindakan dan Penyelidikan Bea dan Cukai Nunukan, Sigit Trihatmoko yang menjadi salah satu pemateri mengatakan, di Kaltara gading gajah berasal dari Tawau Malaysia. setelah dari negara tetangga, gading dibawa ke Nusa Tenggara Timur (NTT), karena disana gading gajah menjadi barang untuk acara pernikahan.

“Di Kaltara baru sebatas masuk, belum ada yang keluar. Selama 2017 saja ada 4 kasus dan semuanya sudah melalui proses hukum. Kenapa gading gajah masuk ke Indonesia karena dibawa ke NTT untuk mahar nikah. Semakin besar gading semakin baik menurut kepercayaan di sana. Makanya kita terus memperketat pengawasan supaya tidak ada satwa yang dilindungi keluar-masuk,” tegasnya.

Namun Bea Cukai mengaku kesulitan melakukan pengawasan, karena banyak jalur tidak resmi yang ada di Kaltara. Oleh karena itu, pihaknya melakukan koordinasi dengan intelijen Polri maupun TNI untuk mencegahnya.

“Yang perlu kita awasi adalah Trenggiling, baik sisik maupun dagingnya, penyu moncong babi, kerang kepala kambing, kemudian angrek, dan masih banyak hewan dilindungi lainya. Yang tidak boleh diperjual-belikan, apalagi sampai keluar masuk negara,” ungkapnya. (*) sumber Koran Kaltara 



Komentar